Apa arti Dark Souls untuk Gua

Gua nulis blog ini di jam 2 malam, kondisi badan agak panas karena radang tenggorokan, kepala agak teler karena obat, jadi maaf kalo tulisan Gua disini agak ngelantur. Walaupun ini udah saatnya Gua tidur, Gua gabisa.. Gua euphoric, ekstatik, bahagia menggebu-gebu tapi disaat yang sama Gua merasa sedih dan haru.. Gua baru namatin DLC terakhir Dark Souls 3: The Ringed City.

Continue reading

Advertisements

Dark Souls and Final Fantasy XV

Japanese RPG dan Western RPG.. Lucu ya, RPG adalah satu-satunya genre game yang dibedakan berdasarkan lokasi geografis. Gak ada tuh genre “korean puzzle” atau “japanese FPS”, perbedaan ini unik hanya ada di genre RPG.

Jadi apa bedanya WRPG dan JRPG? Bukan, bukan dari lokasi tempat game tersebut dibuat, buktinya ada WRPG dari Jepang seperti Legend of Zelda atau JRPG dari barat seperti Child of Light.

Perbedaan dari kedua genre ini adalah pada fokus yang ditekankan pada gamenya. Pada WRPG, elemen yang ditekankan adalah fantasi dan dan ekspresi. Fantasi yang Gua maksud disini bukan fantasi macam Orc dan Elf di middle earh, Fantasi yang Gua maksud adalah saat Game mengubah Kamu menjadi orang lain, saat Kamu jadi jagoan space marine, atau jadi Dragon Slayer. Saat Kamu merasakan puasnya menjadi seseorang yang bukan diri Kamu, itulah Fantasi. Sementara Ekspresi, ya ekspresi. Kemampuan untuk mengeksrpesikan diri Kamu di Game, baik dari pilihan dialog, pilihan faction, pilihan class, penampilan, nama, dan aksi-aksi kita lakukan di game tersebut.

Continue reading

Kenapa Gua tergila-gila Dark Souls

Seumur hidup Gua, mungkin Gua udah pernah mainin ratusan Video Game, banyak yang bagus, banyak juga yang biasa aja, beberapa meh.. Tapi di akhir tahun 2015 kemarin, Gua mainin 2 buah Game yang luar biasa, 2 Game ini membuat Gua berpikir “seperti inilah Video Game yang seharusnya”,

Salah satu game itu adalah Dark Souls.

 

Nulis ini sekalian nyambut Dark Souls III

Continue reading

Horror


Gua nggak pernah suka genre horror dalam media apapun, mau itu film atau video game. Gua bener-bener nggak suka, bahkan ngerendahin genre Horror. Gua selalu ngerasa genre horror adalah genre sampah, genre yang ada untuk seorang produser yang nggak punya bakat sama sekali dan untuk audiens dengan IQ medioker. Perasaan benci ini bukan karena Gua takut, sebaliknya, Gua nggak pernah ngerasa bener-bener takut sama sekali dengan film atau game horror yang gua mainin. Gua nggak merasa peduli sedikitpun dengan apa yang terjadi di dalam layar; karakter-karakter berguguran dengan cara yang sadis, the end. Gua selalu keluar dari bioskop tanpa rasa takut dan ngerasa rugi udah bayar tiket dan udah membuang 2 jam hidup gua untuk hal gak guna. Itulah pendapat gua mengenai horror..

Sampai Gua nonton The Shining

Continue reading