Agama Gua

Sebelum ngomongin agama Gua, Gua mau ngomongin apa itu definisi Agama (menurut Gua).

Menurut Gua, Agama adalah pedoman, panduan, tutorial bagi manusia untuk ngejalanin hidup. Baik hidup sebagai individu maupun sebagai mahluk sosial.

Kebanyakan Agama yang Gua tau isinya adalah peringatan, larangan, dan panduan. Nggak boleh begini, Nggak boleh begitu, harus begini, harus begitu. Cara bersikap terhadap sesama manusia, cara bersikap ke hewan dan ke alam.

Selain panduan hidup, Agama juga memberi Kita sense of community, dengan mengikuti upacara-upacara keagamaan seperti pengajian, misa, sembahyang, dll. Kita merasa menjadi sebuah bagian dari komunitas, hal ini penting karena Kita merupakan mahluk sosial dan perlu komunitas tempat kita belong, tempat Kita berada.

Satu hal yang paling penting buat Gua, Agama BUKAN jawaban dari segala hal. Nggak percaya?Coba deh:

Sebuah partikel bermassa m dan bermuatan q berakselerasi melewati perbedaan potensial V dengan kecepatan non-relativistik. Berapa panjang gelombang de Broglie λ partikel tersebut?

Coba nyari jawaban dari pertanyaan tersebut di kitab agama manapun, gak bakal nemu jawabannya. Untuk pertanyaan-pertanyaan seperti itu, Kita harus mencari jawabannya sendiri. Nggak cuma untuk soal Fisika Quantum atau pertanyaan Sains lainnya, tapi juga untuk pertanyaan-pertanyaan yang nggak ada jawabannya di kitab agama. Agama memberi kita pedoman hidup, aksi yang harus Kita lakukan untuk bisa nyari jawaban dari soal tersebut. Untuk jawabannya, Kita yang harus cari sendiri.

Nah sekarang Kita udah bahas apa itu Agama (menurut Gua), sekarang Gua bakal bahas agama Gua. Agama Gua adalah….. Agama Biologi.

Gua bisa denger otot di dahi  lo mengernyit.. “Agama biologi?? Maksud looohhh???”
Iya sabar, biar Gua jelasin.

Di alam semesta ini ada peraturan, peraturan yang menjaga semua hal berada pada tempatnya dan berlaku sesuai faedahnya, Kita nyebut peraturan-peraturan alam ini dengan sebutan “Sains” atau “Hukum Alam”. Tanpa adanya peraturan ini semua hal berubah jadi berantakan, orang bisa terbang, matahari bisa padam dalam sekejap, bumi bisa pecah, dan seluruh alam semesta bisa acakadut kalau nggak diatur oleh peraturan ini.

Peraturan yang paling fundamental dari hukum alam ini kita sebut dengan Fisika. Fisika mencakup segala hal; dari gelombang elektromagnetik yang Kita lihat untuk ngebaca artikel ini, reaksi nuklir yang mentenagai matahari, gravitasi yang menjaga Kita tetep nempel di permukaan bumi, sinyal listrik neuron di otak Kita, sampai atom-atom di badan Kita, semua itu diatur oleh peraturan yang kita sebut Fisika.

Pada fisika, aturan ini tidak memiliki tujuan, yang ada hanyalah sebab dan akibat, aksi-reaksi. Suatu hal terjadi karena suatu hal sebelumnya terjadi, kejadian tersebut tidak memiliki tujuan atau makna apapun, yang ada hanyalah sebab dan akibat.

Yah, mungkin hal ini belum tentu bener, tapi catet aja dulu karena nanti kita akan bahas lagi.

Nggak ada yang bisa melawan hukum peraturan fisika, hukum fisika sudah paten.

Lalu pada peraturan Fisika, terdapat sebuah cabang aturan kecil, cabang tersebut mencakup komposisi, struktur, dan sifat berbagai materi. Aturan ini Kita namakan Kimia. Kimia mengatur sifat atom, cara atom membentuk ikatan kimia, senyawa kimia, interaksi antar zat melalui gaya intermolekular yang menentukan sifat sebuah materi, dan interaksi antar zat melalui reaksi kimia.

Sama seperti Fisika, aturan Kimia juga tidak memiliki tujuan, yang ada hanyalah sebab dan akibat, aksi-reaksi.dan seperti Fisika, gak ada yang bisa melawan hukum peraturan Kimia.

Lalu pada peraturan Kimia terdapat sebuah cabang kecil juga yang mengatur reaksi kimia yang “Hidup”, yang berkembang biak, beradaptasi dan berevolusi untuk bertahan hidup. Cabang aturan ini kita sebut dengan Biologi.

Nggak seperti Fisika dan Kimia, Biologi memiliki tujuan, yaitu untuk survive, baik secara individu, maupun secara informasi genetik.  Dan nggak seperti Fisika dan Kimia, Kita bisa memilih untuk nggak menuruti aturan Biologi ini, tapi dengan satu konsekuensi; Gen Kita tidak survive.

Semua mahluk hidup terprogram dengan insting alami untuk survive. Semua, Gua ulangi, SEMUA hal yang Kita lakukan di hidup ini memiliki tujuan akhir untuk survive. Dari kerja, nikah, perang, sampai bermain. Dari politik, ekonomi, pertanian, sampai seni sekalipun, semua itu ada hubungannya dengan survival, baik survival secara individu, maupun secara kelompok.

Dan nggak seperti Fisika dan Kimia yang sudah paten, Kita bisa aja nggak nurut terhadap aturan biologi ini, tapi ada hukumannya. Kita bisa aja nggak mau makan, tapi kita bakal mati, dan Gen kita nggak survive. Kita bisa aja milih untuk jadi gay, tapi nggak bisa beranak, yang berarti Gen kita nggak survive.

Biologi memberi kita panduan, yang harus dilakukan dan yang nggak boleh dilakukan untuk bisa survive. Nggak hanya sebagai individu, tapi juga sebagai mahluk sosial.

Sebagai individu, kita nggak usah melawan apa yang sudah dilahirkan ke tubuh kita, tubuh kita dilahirkan dengan sistem dan mekanisme tertentu untuk survive. Baik itu Sel, kromosom, DNA, hormon, sistem imun, dll. Yang bisa kita lakukan adalah mempelajari biologi untuk menjaga tubuh kita sehat untuk bisa survive, baik secara individu maupun secara genetik (kawin, beranak, berkembang biak). Kalau ada sistem yang kurang di tubuh kita, bisa kita perbaiki dengan belajar biologi medis.

Sebagai mahluk sosial, Kita bisa mempelajari hewan-hewan lain, lihat apa yang mereka lakukan untuk survive di lingkungan alam dan sosial mereka lalu adaptasikan ke Kita. Menurut Gua lingkungan hidup kita sudah terlalu artificial, sudah terlalu jauh dengan apa yang alami sehingga insting survival alami kita sudah tumpul. Karena itu, Gua seneng pelajarin cara mahluk lain berinteraksi secara sosial untuk survive.

Sebagai contoh, Pinguin berkumpul membentuk kesatuan untuk melindungi anaknya dari dinginnya cuaca antartika. Simpanse (yang biasanya ribut berisik) bisa tenang, berbagi tugas saat berburu dan berbagi hasil buruan, mereka juga biasa berpatroli untuk menjaga daerah kekuasaan clan mereka. Lihat bagaimana Monyet Geladas ngobrol untuk bersosialisasi satu sama lain untuk menjaga harmoni kelompok, dan Kita bisa banyak blajar soal politik dengan ngelihat hirarki sosial koloni monyet.

Gajah, Serigala, Hyena, Gorilla, dll punya seorang pemimpin untuk memimpin rute perjalanan, perburuan, dan menjaga keselamatan dan keamanan kelompok. Banyak juga burung yang “menikah” secara monogami seumur hidup untuk membesarkan anak mereka. Ada Koloni semut yang nggak saling menyerang satu sama lainnya walaupun mereka berbeda sarang, bahkan sarang dari benua yang berbeda sekalipun, semut-semut ini saling “berdagang” antar sarang. Ada juga koloni laba-laba yang berbagi makanan secara merata untuk kelangsungan hidup koloni.

Untuk ilmu lain seperti pertanian, kita bisa nyontoh leafcutter ants, damselfish, rayap, sampai ubur-ubur totol karena mereka udah jauh lebih lama  bercocok tanam dibanding manusia.  Kita juga sudah nyontek arsitektur sarang rayap untuk ngebangun gedung yang memiliki sirkulasi udara yang baik. Dan tentu aja kita udah nyontek desain sayap burung untuk terbang.

Bahkan sampai tradisi dan budaya, Komodo adu sumo untuk berebut pasangan kawin, Gagak ngadain upacara pemakaman untuk gagak yang mati, dan kalo lo belum pernah liat tarian cendrawasih, man.. liat sekarang

 

Gua bisa gak kelar-kelar ngomongin contoh-contoh yang bisa kita colong dari mahluk lain, semua contoh itu bisa dipelajari dan beberapa diadaptasikan ke manusia untuk menjaga kelangsungan survival kita.

Jadi itulah agama gua, Agama yang memberi Gua panduan untuk menjaga survival gen Gua dan survival koloni Gua. Biologi memberi Gua panduan untuk menjaga tubuh, dan panduan cara bersikap ke sesama manusia, ke potential mate, ke hewan lain, dan ke alam. Biologi memberi  Gua panduan bagi Gua untuk menjalankan tugas Gua sebagai mahluk hidup, survive.

Seperti agama-agama lain, Gua nggak bisa nemuin semua jawaban hanya dari Biologi, tapi Gua bisa gunakan Biologi untuk memandu hidup Gua untuk nemuin jawaban tersebut.

—————————-

Kembali lagi soal tujuan, apa tujuan hidup? Kalo secara biologi, tujuan hidup adalah survival, tapi secara fisika, mungkin hidup punya satu fungsi; hidup adalah mesin penambah entropi semesta.

Hukum termodinamika ke 2 bilang Entropi di semesta selalu bertambah. Entropi itu mungkin gampangnya adalah tingkat distribusi energi pada suatu sistem (ini gak akurat sih tapi yasudalah, ribet soalnya). Jadi semakin merata tersebarnya energi dari sebuah sistem semakin, semakin tinggi entropinya.

Semesta akan menyebarkan secara merata seluruh energi yang dia miliki ke seluruh pojok alam semesta. Bintang, black hole, dark energy, dark matter, dan kehidupan hanyalah sistem di alam semesta untuk melakukan penyebaran energi ini.

Kalo mau tau penjelasan detilnya, nonton video ini:

 

Setelah baca POST ini,  please baca PART 2 dari blog ini
https://archontasius.wordpress.com/2017/02/05/agama-gua-part-2-meme

Advertisements

2 thoughts on “Agama Gua

  1. Pingback: Agama Gua Part 2: Meme | Archontasius

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s