Kebanyakan belajar?

Kalo ada orang nanya Gua: “Dik, menurut Lo, penemuan paling penting sepanjang sejarah manusia apaan?”. Kalo dulu Gua bakal jawab metode ilmiah, tapi setelah Gua pikir-pikir, metode ilmiah nggak bakal bisa berkembang kalau kita belum nemuin satu hal terlebih dahulu; pertanian.

Sebelum kita mulai bertani, nenek moyang kita adalah kelompok nomaden. Mereka hidup dari berburu mangsa dan ngumpulin buah-buahan, ketika sumber makanan di tempat mereka tinggal sudah mulai menipis mereka akan pindah nyari tempat tinggal baru.

Pada saat itu, bertahan hidup adalah hal yang sangat susah. Masing-masing individu nenek moyang kita harus memiliki skill dan pengetahuan yang luas untuk bertahan hidup. Skill dan pengetahuan seperti seperti cara berburu, membuat senjata, jenis buah-buahan, mangsa, predator, peta dan topografi lingkungan sekitar, lokasi sumber air, dll. Banyaknya kriteria yang diperlukan untuk bertahan hidup pada masa itu membuat volume otak mereka lebih besar daripada otak manusia modern.

Mereka juga harus fit secara fisik untuk bisa melakukan semua kegiatan itu. Orang-orang yang penyakitan seperti Gua, yang matanya minus, yang kakinya dengklek, yang nggak cukup pinter, mereka nggak akan survive di jaman itu. Singkatnya, nenek-kakek moyang kita adalah manusia super kalo dibandingin orang jaman sekarang.

Tapi semua itu berubah saat negara api menyerang…

eh salah, maksud Gua.. Semua itu berubah saat kita mulai bertani.

Setelah kita menemukan pertanian, kita nggak perlu lagi hidup secara nomadik untuk nyari sumber makanan, kita jadi spesies yang menetap. Kita membuat rumah dan pagar untuk melindungi diri, sejak itu kita nggak perlu lagi khawatir untuk bergulat dengan alam liar, disaat itulah kita bisa mulai ngembangin ilmu di bidang lain yang nggak berhubungan dengan survival.

Orang-orang mulai ingin tinggal dengan nyaman dan perlu penampungan untuk persediaan makanan, muncul tukang ahli untuk membangun rumah dan tempat penampungan makanan. Saat terlalu banyak produk yang dihasilkan, muncul pedagang yang pandai berhitung untuk mendistribusikan produksi ke banyak orang. Saat perhitungan yang diperlukan semakin rumit, muncul ahli matematika untuk mempermudah perhitungan. Saat perhitungan yang diperlukan menjadi terlalu banyak, muncul komputer. Bidang-bidang ilmu baru terus bermunculan, dari ilmu pertanian, matematika, arsitektur,  ekonomi, bela diri, seni dan seterusnya sampai akhirnya kita bisa sampai di jaman sekarang, jaman digital.

Semua itu bisa terwujud karena pertanian. Saat perut kita nggak lapar, saat hidup kita nggak terancam, saat itulah ilmu kita berkembang. Pertanian adalah fondasi dasar dari peradaban manusia, inilah sebabnya peradaban-peradaban kuno biasanya ditemuin di pinggir sungai.

Tapi kembali lagi ke jaman sebelum adanya pertanian. Pada saat itu makanan belum tersedia dengan mudah seperti sekarang, kadang mungkin nenek moyang kita bisa kelaperan selama beberapa hari sebelum akhirnya mereka bisa makan lagi. Dan di jaman sebelum kulkas, makanan yang ada harus langsung dihabisin dengan cepet sebelum basi atau mengundang predator lain. Jadi bagi nenek moyang kita, makan sebanyak-banyaknya dengan rakus adalah cara paling baik untuk menyimpan persediaan makanan (berbentuk lemak di badan) dan juga untuk menjaga stamina pada saat mereka kesulitan mencari makanan.

Tapi dengan kemajuan ilmu dan teknologi pertanian, makanan udah tersedia dengan mudah bagi kita. Setiap harinya kita bisa makan secara teratur tanpa harus takut kelaparan esok harinya. Dan dengan adanya kulkas kita bisa menyimpan makanan lebih lama tanpa harus takut basi atau mancing singa kelaperan.

Di jaman sekarang, makan dengan rakus udah nggak membawa keuntungan apa-apa lagi. Makan rakus yang ada malah bikin kita jadi kegemukan, yang akhirnya bikin darah tinggi, kolesterol, penyakit jantung, dll, yang akhirnya bikin kita nggak menarik secara genetik, jadinya nggak ada yang mau ngawinin, kan gawat.

Jadi bisa dilihat, perkembangan teknologi bisa membuat sesuatu yang tadinya baik, jadi hal yang buruk.

Nah ini yang membawa Gua ke topik utama yang pengen Gua omongin. Kelamaan ya intronya? maaf..

Balik lagi ke jaman nenek moyang kita, bagi nenek moyang kita segala macam pengetahuan seperti cara berburu, membuat senjata, jenis buah-buahan, mangsa, predator, peta dan topografi lingkungan sekitar, lokasi sumber air, dll, itu penting untuk kelangsungan hidup mereka. Jadi ketika ada kesempatan untuk belajar, mereka harus pelajarin dengan baik untuk kelangsungan hidup mereka.

Sampai tahun 90an awal, cari ilmu pun jauh lebih susah daripada sekarang. Kita harus nyewa atau beli buku untuk bisa dapetin ilmu yang kita cari, atau kita belajar langsung dari orang yang udah punya ilmu dan pengalaman. Di saat itu ketersediaan ilmu itu langka, jadi masuk akal bagi kita untuk manfaatin segala kesempatan yang ada untuk dapetin ilmu.

Tapi sekarang, di jaman digital, jaman informasi, ilmu itu ada buanyak dimana-mana di internet. Sekarang dapetin ilmu bahkan lebih gampang daripada dapetin makanan, kita nggak perlu jalan ke kulkas untuk dapetin ilmu, ilmu yang jauh lebih banyak dan lebih variatif dibanding makanan yang ada di kulkas kita, seluruh gudang ilmu itu cuma berjarak beberapa ketapan jari jauhnya dari kita.

Dari kecil Gua tertarik dengan banyak hal, dari dinosaurus, astronomi, olah raga, sejarah, senjata, mobil, musik, dll, jadi dari dulu Gua suka baca. Tapi karena keterbatasan ilmu yang ada pada jaman itu, Gua harus minjem buku dari perpustakaan, beli majalah/tabloid, atau pergi ke rumah kakek untuk bacain koleksi buku dia yang bejibun, semua itu perlu usaha untuk dilakukan.

Tapi sekarang, dengan adanya the power of internet di ujung jari Gua, Gua jadi ketagihan nyerep segala macem ilmu yang tersedia di internet. Nggak jarang Gua terjaga sampai jam 4 pagi baca artikel tentang teknik pedang Half-Swording. GUA KAGAK PUNYA PEDANG. Atau baca sejarah bahwa kata testimoni berasal dari cara orang Romawi mengucap sumpah dengan cara saling menggenggam testis masing-masing, dan bahwa tradisi saling genggam testis itu juga diamati pada Babon. Informasi dan ilmu yang sangat berguna untuk hidup Gua ke depannya.

Ini bikin Gua bertanya, apa Gua terlalu rakus konsumsi ilmu?

Ya tentu aja, rakus baca nggak bawa dampak negatif seperti rakus makan, Gua nggak bakal kena penyakit dari kebanyakan baca, paling ya minus mata nambah atau besok paginya ngantuk-ngantuk karena begadang.

Tapi semua ilmu yang Gua baca itu nggak membuat Gua lebih produktif, banyak orang yang lebih produktif dari Gua walaupun mereka nggak tau teknik half-swording, walaupun mereka nggak ngerti asal kata testimoni. Jadi buat apa Gua belajar semua itu?

Gua nulis gini karena Gua lagi sakit, Gua nggak bisa berkegiatan setiap hari diluar rumah sebelum akhirnya jatoh sakit lagi, jadi yang bisa Gua lakukan dari rumah ya paling cuma belajar. Ya belajar bagus tapi kalo Gua nggak bisa hasilin apapun dari segala ilmu yang Gua pelajarin, Gua ngerasa semua itu nggak ada gunanya.

Ya salah sendiri sih belajar kok teknik nusuk pedang.

Dari dulu kita selalu dikasih tau hal-hal yang bagus tentang belajar, “Belajarlah sampai ke negri Cina” atau “Ilmu itu harta yang nggak ada abisnya, semakin dibagi semakin bertambah”. Ya Gua setuju dengan semua hal itu, tapi yang nggak dikasih tau ke kita adalah kalau kita nggak bisa produktif dengan ilmu yang kita punya, kalau ilmu kita cuma ngendok di otak sendiri tanpa bisa bawa kebaikan ke orang lain, apa gunanya?

Mbohlah, buat bahan renungan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s