Dewasa?

Minggu lalu, Gua bermalem mingguan bareng temen-temen Gua. Seperti biasa, Kami nongkrong-nongkrong ngopi sambil ngelirik kiri-kanan berburu calon Ibu dari anak-anak Kami. Lalu entah darimana temen Gua memulai obrolan, bukannya obrolan sepele seperti ngegosip atau ngomongin tentang bola, Dia malah bertanya “menurut Kalian kedewasaan itu apa sih?”

Bingung mendadak ditembak pertanyaan filosofis kayak gitu, Gua nggak bisa memberi jawaban yang bener, ditambah lagi Gua juga malu karena Gua sadar nggak satupun dari kelompok Kami itu sudah bisa dibilang dewasa padahal semua anggotanya sudah lebih dari seperempat abad, dan yang paling kekanakan dari kelompok itu adalah Gua. Gua yang main Game seharian, Gua yang masih suka liat anime, komik dan kartun, Gua yang masih berdebat mengenai pokemon di internet, Gua yang masih jomblo setelah seperempat abad ini, masih jauh dari dewasa.

Semalaman Gua mikirin jawaban dari pertanyaan itu sampai Gua nggak bisa tidur sampai pagi (atau mungkin karena kopinya), dan mungkin karena Gua ngantuk dan teler, bukannya jawaban yang ketemu tapi malah lebih banyak pertanyaan dari pertanyaan awalnya.

“Kalau ada pertanyaan sosial apapun itu berpikirlah secara biologis. Kita ini mahluk biologis, semua aksi yang Kita lakukan di hidup hanyalah cara-cara untuk memastikan gen Kita bisa survive terus di alam ini, termasuk semua perilaku sosial Kita”

Itulah prinsip Gua kalo nemu pertanyaan sosial seperti ini. Jadi Gua memulai dari situ, Gua mulai berpikir dari hewan-hewan lainnya dulu, apa arti “Dewasa” bagi Mereka.

Sebagai mahluk hidup, seekor hewan itu dianggap dewasa ketika Dia siap dari 2 sisi, siap secara fisiologis dan siap secara ilmu.

1. Secara fisiologis.
Seekor mahluk hidup itu dianggap dewasa ketika Dia siap untuk beranak, dan ketika Dia siap untuk bertahan hidup di alam, baik Dia kuat untuk berburu atau kuat untuk membela diri dari segala ancaman yang ada di alam.

2. Secara skill.
Jadi hewan juga nggak segampang itu, Mereka juga harus belajar ilmu cara bertahan hidup baik dari orang tua atau dari lingkungan mereka. Untuk karnivor Mereka harus belajar bagaimana caranya berburu, mencari tempat yang ideal untuk menyergap mangsa, menekel mangsa yang jauh lebih besar, menggiring satu mangsa supaya mangsa tersebut terpisah dari kawanannya, mencekik mangsa yang aman supaya nggak  dicederain, dan untuk herbivor mereka harus belajar cara lari dari pemangsa, kamuflase supaya nggak terlihat, migrasi ketika musim kering, dan sebagainya dan sebagainya.

Untuk mahluk sosial ilmu yang harus dipelajarin Mereka jauh lebih banyak lagi, karena mereka nggak cuma harus belajar mempertahankan diri Mereka sendiri, Mereka juga harus belajar untuk membantu kawanan Mereka. Berburu bekerja sama dengan strategi, menempatkan posisi sebagai penggiring dan penyergap, mempimpin kawanan, melindungi kawanan dari ancaman. Mereka juga harus belajar struktur sosial dari kelompok mereka, seperti Siapa yang berhak makan duluan, Siapa yang makan terakhir,  Siapa yang berhak kawin, gimana cara menarik perhatian lawan jenis, apa yang harus dilakukan kalau bertemu anggota kelompok lain, bahkan sampai gimana caranya ngumpet-ngumpet ngawini istrinya kepala suku, banyak juga loh aturan sosial hewan!

Inilah sebabnya kenapa mahluk sosial umur dewasanya jauh lebih lama dari mahluk solitary. Harimau dan Cheetah yang hidup sendiri mencapai kedewasaan pada hanya usia 2 tahun, sementara Singa yang sama-sama kucing besar tapi hidup secara sosial baru mencapai kedewasaan pada usia 7 tahun.

Untuk mahluk sosial yang struktur sosialnya lebih rumit waktu yang diperlukan untuk mencapai kedewasaan lebih lama lagi, Monyet rata-rata mencapai kedewasaan pada usia 4 tahun, cukup lama untuk ukuran tubuhnya yang kecil. Untuk Kera bahkan lebih lama lagi Simpanse dewasa pada usia 10, Gorilla 10-12, Orangutan 15, Bonobo 16.

Jadi pada intinya, seekor mahluk dianggap sudah dewasa ketika Dia sudah siap secara fisik maupun secara skill untuk bisa bertahan di alam, baik secara individu maupun secara kelompok.

Dari saudara dekat Kita, kembali lagi Gua balik mikir tentang Manusia. Berapa umur manusia sewajarnya dianggap “dewasa”?

Kalau berdasarkan aturan diatas, berarti seharusnya manusia jadi dewasa sekitar umur 22 tahun, karena pada umur segitu rata-rata orang sudah melewati masa puber dan seharusnya sudah mendapatkan ijasah Sarjana (dengan beberapa pengecualian :D) sehingga mereka seharusnya sudah siap untuk hidup nyari makanan sendiri dan siap untuk beranak.

Tapi 22 ya? Ketuaan nggak sih? Gua bertanya-tanya lagi, sekitar lima puluh tahun yang lalu umur dewasa itu berapa? Gua yakin dibawah 22, mungkin 17 tahun? lalu dua ratus tahun yang lalu? 16 tahun? seribu tahun yang lalu? 15? lima puluh ribu tahun yang lalu? 12? seratus ribu tahun yang lalu???

Kenapa? Kenapa semakin Gua mundur ke masa lalu, sepertinya ekspektasi seseorang untuk menjadi dewasa semakin lama semakin muda? Secara biologis badan kita nggak berevolusi banyak baget, lalu apa yang beda? Apa yang membuat orang tua, kakek-nenek, dan nenek moyang Kita harus dewasa dengan lebih cepat dibanding Kita? Jadabannya: Ilmu pengetahuan dan teknologi.

Teknologi memang diciptakan untuk memudahkan hidup Kita, tapi teknologi juga menciptakan aturan sosial dan skill-skill baru yang harus dipelajarin untuk bisa bertahan hidup di alam maupun di lingkungan sosial Kita. Inilah yang menyebabkan umur dewasa manusia jadi terus bertambah tua seiring bertambahnya jumlah teknologi baru, apalagi di jaman digital seperti sekarang, saat ada puluhan inovasi baru setiap tahunnya, Kita semua harus mempelajari teknologi baru itu untuk bisa bersaing, untuk bisa survive di lingkungan sosial kita.


Di Amerika sebelum era industri mobil nggak ada aturan jalan raya. Orang, sepeda, dan Kereta kuda bebas berkeliaran tanpa arah di jalanan, saling menghindari dan saling berbagi jalan. Lalu ketika mobil mulai banyak dipakai di jalanan, kecelakaan mobil mulai bermunculan. Publik resah dan meminta untuk aturan untuk melarang mobil di kota. Industri mobil panik melihat kejadian ini sehingga Mereka membuat propaganda yang bertujuan untuk mengusir pejalan kaki dari jalanan sehingga jalanan menjadi milik mobil. Mereka membayar koran-koran, selebaran, dan pemerintah, menyebut pejalan kaki yang sembarangan di jalan sebagai “Jaywalker“. “JAY” adalah kata yang kasar banget pada jaman itu, mungkin sama seperti kata “F*CK” pada jaman sekarang (Btw kalau karakter utama Star Wars dinamain Luke F*ckwalker keren juga sih). Akhirnya publik nurut kalau jalan sembarangan itu salah, dan pemerintah akhirnya melarang pejalan kaki untuk keliaran sembarangan di jalan raya.

Dulu sebelum ada komputer, Kita harus belajar cara menulis dan mengirim surat, cara menulis dan mengirim pesan melalui teleraph. Di era Smartphone ini Kita nggak perlu skill-skill tersebut, skill mengirim telegraph dan surat digantikan dengan skill chatting, menulis emoji, dan skill ngacangin orang dengan nunduk ke smartphone Kita.

2 paragraf diatas adalah contoh bagaimana teknologi dapat menambah aturan dan skill baru dalam kehidupan sosial Kita, perubahan ini memberi 2 dampak ke kehidupan Kita sebagai pemuda-pemudi di jaman sekarang. Pertama, ekspektasi Kita jadi tinggi sekali untuk bisa survive di jaman sekarang. Kedua, Kita jadi manja.

Di era industrial Amerika sekitar 100-200 tahun yang lalu, pekerjaan yang orang biasa dambakan adalah untuk menjadi buruh pabrik. Skill yang diperlukan untuk menjadi buruh pabrik nggak terlalu banyak, asal Kamu bisa menghafal beberapa proses kegiatan Kamu sudah bisa diterima untuk menjadi seorang buruh. Inilah sebabnya sistem pendidikan Amerika dibentuk berdasarkan keperluan untuk menjadi buruh yang dasar utamanya adalah menghafal (Sistem pendidikan inilah yang Gua duga diimpor untuk jadi dasar pendidikan Indonesia). Pada saat ini, Google membuat skill menghafal menjadi skill yang kadaluarsa, tenaga buruh juga sudah banyak digantikan oleh robot yang jauh lebih murah.Hal ini menyebabkan pekerjaan dambaan orang biasa menjadi lebih dari seorang buruh pabrik. Kita sekarang pengen jadi pegawai, akuntan, wirausaha, IT, desainer, arsitek, seniman, dll, tapi semua pekerjaan itu butuh lebih dari sekedar skill menghafal. Pekerjaan-pekerjaan tersebut membutuhkan skill komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan skill berpikir kritis yang sayangnya nggak bisa dikembangin dalam sistem edukasi kita yang masih berbasis hafalan sebagai senjata utamanya.

Mungkin 20-25 tahun yang lalu, lulusan SMA masih diterima sebagai standar penerimaan pegawai baru. Sekarang standar penerimaan pegawai baru minimal adalah lulusan S1, padahal pendidikan Strata itu seharusnya khusus untuk akademia yang tujuannya adalah melanjutkan riset untuk mengembangkan bidang ilmu yang mereka pelajari, bukan untuk sekedar jadi karyawan kantoran.

Semua skill yang kita perlukan untuk survive ini perlu waktu yang lama untuk bisa diserep dan dipahamin oleh otak Kita, makanya semakin lama umur kedewasaan manusia akan semakin tua seiring bertambahnya skill yang harus Kita pelajarin. Tapi di satu sisi, bertambah lamanya deadline untuk menjadi dewasa ini malah membuat Kita jadi semakin nunda-nunda untuk jadi dewasa, sehingga bisa banyak dilihat sekarang bayi-bayi bangkotan (seperti Gua) berkeliaran nongkrong-nongkrong di kafe mahal ngabisin uang orangtua Mereka.

Di jaman nenek moyang Kita, Mereka nggak punya kemewahan untuk bersantai-santai untuk bersikap dewasa. Hidup sulit dimasa mereka, sesaat setelah Mereka puber mereka segera beranak karena mungkin sisa hidup Mereka nggak lama, setelah itu Mereka ikut membantu kelompok Mereka untuk mencari makanan dan membela diri baik dari pemangsa maupun dari suku saingan.Sampai di jaman Kakek-Nenek Kita pun Mereka harus cepat beranjak dewasa karena hidup dalam penjajahan juga sulit, Kakek Gua sudah ikut berperang melawan Belanda sejak umur 12. Nenek moyang dan Kakek-Nenek kita nggak punya waktu untuk menunda kedewasaan Mereka, Mereka terlahir ke dunia yang berat dan Mereka harus segera beranjak dewasa secepat mungkin atau Mereka mati.

Kesuksessan mereka dalam survive yang akhirnya membawa Kita ke jaman yang nyaman ini. Jaman dimana Kita punya waktu belajar selama 22 tahun untuk mencapai dewasa, sayang tenggat waktu yang lama itu membuat sebagian dari Kita jadi bersantai-santai dan akhirnya telat untuk menjadi dewasa, atau malah nggak sama sekali.

Aneh ya? Di satu sisi beban hidup kita menjadi sangat berat, tapi di sisi lainnya Kita malah justru semakin manja.. kontradiksi.. atau mungkin Gua aja yang terlalu sinis melihat perubahan yang dibawa teknologi, Gua aja yang sinis karena Gua sudah lelah, sudah tua.. Yah memang ada untungnya hidup di jaman berlimpah teknologi ini, tapi ya ada sialnnya juga..

Sekian cerocosan Gua

Advertisements

One thought on “Dewasa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s