Batman v Superman: Dawn of Hyperbole

Kita ini mahluk sosial yang salah satu keinginan dasarnya adalah berbagi pengalaman, makanya Kita suka kumpul-kumpul sambil ngegosip saling berbagi cerita satu sama lainnya. Kita bercerita atau berbagi pengalaman supaya Kita bisa merasa lebih dekat, lebih terhubung secara emosional ke orang-orang yang Kita bagikan pengalaman Kita, dan hidup di jaman internet ini, sosmed memberi Kita platform untuk memenuhi kebutuhan Kita untuk berbagi cerita.

Di internet Kita juga dibanjiri setiap saat oleh informasi dari segala arah, berita, foto, video, atau lagu. Dari temen, keluarga, artis, atau dari media berita yang Kita ikutin. Kita ingin berbagi cerita yang Kita lihat di internet itu dan Kita juga pengen berbagi pengalaman pribadi Kita. Kita semua pengen didenger, pengen diakui. Tapi cerita dan pengalaman yang Kita bagikan di internet harus bersaing dengan ratusan juta pengguna internet lainnya, dan ketika cerita yang Kita bagi nggak direspon oleh siapapun, Kita merasa nggak dianggep, seperti ngomong ke tembok.

Jadi apa yang harus Kita lakukan supaya cerita yang kita bagi terlihat menonjol diantara jutaan cerita lainnya? Gunakanlah  seribu hashtag (karena satu gambar bisa bermakna seribu kata), Caps Lock, tema kontroversial, dan majas hiperbolis.

contoh:

“O EM GEE!! BARUSAN NONTON FILM JAMES BOND!!! ACTIONNYA KEREN!! CERITANYA AMAZING!! DAN PIERCE BROSNAN KEREN BANGET GANTENG BANGET!!!!! PIERCE HAMILI AKUU!!!!11!11!!!! #JAMESBOND #007 #NOHOMO #IMSTRAIGHT #LGBT

Semua yang kita bagikan haruslah cerita yang sangat super sekali, semua pengalaman Kita sangat unik, semua foto-foto kita super bahagia, semua film, album, buku, konser yang kita tonton pokoknya harus paling awesome the best.

Pada tahun 2014 film Boyhood dirilis, hampir semua orang suka Boyhood. Kritikus film berlomba-lomba untuk memuji Boyhood, The New York Times bilang “salah satu film paling luar biasa di abad ke-21”, Variety memuat artikel bertajukan “Kenapa Richard Linklater pantas mendapatkan penghargaan Oscar untuk Boyhood”, dan banyak kritikus-kritikus lain yang menyebut-nyebut Boyhood sebagai film yang “Masterpiece” “Visioner” “Mendalam” dan lain-lain, tapi kritikus Kenneth Turan nggak merasa begitu.

Turan enggak benci Boyhood, menurut Dia boyhood film yang “OK”. Tetapi karena semua orang di sekelilingnya melihat Boyhood sebagai sebuah masterpiece, Turan menjadi ragu akan keputusannya, untuk beberapa saat Dia merenung mengenai penilaiannya akan Boyhood, tapi akhirnya Dia menyadari sesuatu dan Dia menulis:

“Boyhood” menunjukkan pada Saya bahwa Kita hidup dalam budaya hiperbolis, Kita ingin menobatkan film-film sebagai sebuah karya masterpiece, mungkin untuk membuat hidup Kita sebagai kritik terasa lebih penting karena Kita dapat mengaku bahwa Kita pernah mengalami sesuatu yang megah dan bermakna

Di akhir artikelnya Turan menulis:

Sebagai seorang kritikus film. Kamu adalah sebuah kelompok, atau Kamu bukan apa-apa.

Hal ini membawa Gua ke berita paling heboh di internet baru-baru ini, Batman v Superman (BvS).

Gua nonton BvS sebelum review-review dari kritikus film bermunculan di Internet karena Indonesia salah satu negara yang kedapatan rilis sebelum Amerika, jadi Gua bisa membentuk opini Gua sendiri mengenai film ini sebelum review dari kritikus berdatangan. Gua juga nonton film ini dengan tujuan untuk enjoy, bukan untuk membedah film ini secara kritis. Nggak ada orang yang membayar Gua untuk membuat Headline yang heboh supaya artikel Gua dibaca. Gua bayar untuk enjoy dan itu yang Gua lakukan, duduk enjoy.

Menurut Gua ini film “OK”, ceritanya cukup berat untuk sebuah film superhero, mengenai penilaian masyarakat terhadap seseorang yang memegang kekuasaan dan implikasinya ke orang yang memegangnya. Adegan actionnya indah luar biasa, nerdgasm buat mata Gua, dan Gal Gadot juga indah luar biasa, penyejuk hati dan mata Gua. Beberapa hal bisa diperbaiki seperti akhir dari duel yang anti klimaks, tempo yang turun setelah duel karena harus nyelametin Mama Kent dulu sebelum akhirnya naik lagi sewaktu Doomsday muncul, dan Lex Luthor yang.. ughh. Tapi overall Gua sangat enjoy nonton film ini.

Lalu besoknya saatnya BvS dibuka untuk kritikus di barat, dan mereka benci film ini.

“Yawn of Justice”  “Zack Snyder dull disaster may knock you unconsious” “A beautiful disaster” “The audience loses in Batman v Superman”, itu beberapa Headline yang Gua liat disaat film ini dirilis untuk kritikus. Sehari setelah kritik menulis reviewnya BvS dirilis untuk publik di barat, opini publik terbelah. Ada yang suka BvS ada juga yang nggak suka, kebanyakan dari Mereka yang nggak suka setuju dengan apa yang kritik omongin.

 

bvas

Batman v Superman, Critics v Audiences

 

Kebanyakan dari kritikan terhadap BvS adalah temponya yang katanya luar biasa amburadul, tapi Gua enggak ngerasa seberantakan itu. Sekitar 3/4 isi film ini adalah tentang Batman vs Superman, dan 1/4 sisanya adalah rencana jahat Luthor. Menurut gua, bagian Batman vs Superman di film ini sangat bagus, lingkupnya nggak terlalu besar dan nggak terlalu banyak action, malah serasa seperti film political thriller dan Gua nggak keberatan dengan itu. Sayang berantemnya terlalu sebentar dan endingnya anti klimaks. 1/4 bagian sisa film ini yang berisi Luthor dan rencana jahatnya memang terasa terburu-buru dan dipaksa untuk dimuat ke film ini, ditambah lagi Luthornya yang kayak begitu. BvS terasa seperti 2 buah film yang dipepet jadi satu, dan memang itu udah dikasih tau di judulnya; Batman v Superman DAN Dawn of Justice. Kalau aja mereka membagi film ini menjadi 2 film terpisah dan lebih memfokuskan cerita masing-masing film, 2 film ini bisa bagus banget.

Tapi Gua ingat satu film superhero lainnya yang Gua rasa juga punya masalah tempo tapi nggak dikritik sejahat BvS oleh kritik maupun fans, Avengers: Age of Ultron (AoU).

Penasaran kenapa pendapat orang-orang berbeda dengan Gua, kemarin Gua nonton lagi BvS dan AoU (Age of Ultron). Memang Gua cenderung lebih suka cerita DC ketimbang Marvel, tapi Gua juga suka dengan Marvel, dan Gua bener-bener berusaha untuk seobjektif mungkin dalam nonton kedua film ini.

Pendapat Gua sama sekali nggak berubah mengenai BvS, malah mungkin Gua lebih enjoy sewaktu nonton kedua kalinya, untuk AoU Gua nemu beberapa masalah, tapi Gua bisa mengabaikan masalah-masalah yang Gua temuin dan tetep sangat enjoy filmnya, dan Gua nemu alasan kenapa omongan kritik dan fans nggak sepedes itu ke AoU.

Ada 4 alasan:

1. Nama filmnya; Batman v Superman. Nama Batman atau Superman sendirian aja udah lebih besar daripada gabungan seluruh nama Thor, Ironman, Hulk, Hawkeye, Black Widow, Quicksilver, Scarlet Witch dan Vision digabungin jadi satu. Di film ini ada 2 nama karakter itu di judul film, ditambah lagi Kita tau Wonder Woman bakal ada di film ini. BvS membawa beban super berat menampilkan 3 karakter komik paling ikonik (selain spiderman) didalam satu film.

2. Kontroversi casting. Waktu Afleck diumumin untuk memerankan Batman, seluruh internet marah-marah. Mereka masih sakit hati ketika Afleck memerankan Daredevil dengan jelek jauh di tahun 2003. Begitu Eisenberg diumumin unruk meranin Luthor, sekali lagi internet ngamuk. Untuk bisa nepis semua kritikan dari internet ini Afleck dan Eisenberg harus buktiin kalau Mereka bener-bener pantas untuk memerankan karakter Mereka.

3. Disaat BvS membahas isu serius mengenai kekuasaan, AoU bercerita tentang jagoan-jagoan keren berantem melawan kejahatan dan melindungi Bumi. Ini sebabnya AoU terasa jauh lebih ringan jadi penonton nggak terlalu mikir serius tentang film ini, AoU juga jauh lebih komedik. Ini kenapa nggak ada yang masalahin kenapa Stark nggak dihukum padahal dia udah bikin Ultron, kenapa Hulk dan Ironman nggak dihukum karena udah ngancurin seisi kota. Adegan action berantem AoU juga jauh lebih lama dibanding adegan action berantem di BvS, dan kebanyakan orang nonton film superhero karena Mereka pengen nonton action berantem ketimbang pengen nonton drama politik.

4. Penyebab utama, Hype yang berlebihan.

Saat sebuah film dibebani dengan keempat hal ini, film ini harus sempurna untuk bisa menahan keempat beban yang bener-bener berat itu, sebuah nilai OK aja nggak akan cukup untuk menampung ekspektasi Kita akan film ini, film ini harus sempurna dari segala sisi untuk bisa membayar penantian kita selama 3 tahun untuk bisa nonton film ini, fans berat komik mungkin udah nunggu seumur hidup mereka untuk bisa nonton Batman berantem lawan Superman di layar lebar. Ketika film ini akhirnya muncul dan nilainya hanya OK, sedunia marah, Mereka merasa penantian Mereka selama ini nggak sepadan dengan apa yang Mereka tonton, Mereka merasa dibohongin dan ngelepasin dan berbagi pengalaman amarah mereka ke internet.

Inilah kenapa kritik menilai BvS di lebih jelek dari Daredevil (44). Sejajar dengan Twilight: The new Moon (28), dan jauh dibawah Sharknado (82). Karena film-film itu sama sekali nggak diberatin empat beban tersebut.

aL2d4vA_700b

ya kali

Dijaman internet seperti ini, disaat semua iklan harus sangat heboh dan menjanjikan pengalaman the best dari semua produk yang mereka iklanin, ekspektasi Kita juga melonjak sangat tinggi, terutama untuk produk yang punya fanbase yang gede seperti komik dan video game. Ketika produk yang keluar bukanlah produk yang the best tapi cuma OK aja, Kita ngerasa dibohongin dan menilainya buruk secara berlebihan. Di jaman internet ini, Lo suka setengah mati, atau Lo benci setengah mati, gakada yang ditengah.

Di jaman yang kayak gitu jadi produser itu susah. Mereka harus bisa nyelipin pesan-pesan sponsor, harus udah mempersiapkan cerita untuk sekuel, harus nggak menyinggung sekelompok orang-orang tertentu, dan yang tersusah, harus bikin karya yang sesuai ekspektasi fans. Tekanan yang gede itu membuat para produser film atau game jadi “main aman”, ngikutin aja satu formula yang udah berulang kali terbukti bisa muasin semua orang baik dari studio, sponsor, dan fans terus-menerus. Produser-produser jadi enggak berani untuk nyoba hal yang baru karena Mereka takut produknya ngecewain ekspektasi fans sehingga nggak balik modal, dengan modal untuk bikin film dan game sekarang meroket jadi mahal banget, itu ngeri banget.

Gua salut dengan produser-produser yang berani untuk nggak main aman, ngambil resiko untuk nyoba suatu hal yang nggak umum walau karyanya belum tentu berhasil baik secara finansial atau diterima kritik dan fans. Makanya walau semua orang suka buanget dengan Star Wars Episode VII, Gua enggak sesenang itu karena menurut Gua Episode VIII kerasa seperti  film generik fantasy young adult lainnya yang udah bejibun di pasaran, dan Gua enjoy BvS karena Gua nemuin suatu hal yang jarang; film superhero drama politik selain Watchmen, terlepas dari segala masalah narasinya.

Mungkin Gua bisa enjoy BvS dan beberapa produk lain yang dibenci fans seperti Metal Gear Solid V karena Gua orang yang cukup nerima apa adanya mengenai hal seni. Biasanya Gua bukan orang yang nerima apa adanya, tapi untuk masalah seni Gua menghargai seniman yang udah susah-susah berkarya sehingga Gua bersikap lebih nerima dibanding terhadap hal lainnya. Jadi ketika hal yang dijanjikan ke Gua bakal “luar biasa awesome the best” ternyata hanya “OK”, Gua nggak kecewa banget.

Tapi Gua pun ragu sampai disaat Gua nulis blog ini. Gua mikir apa yang membuat Gua bisa enjoy BvS sementara kritik malah memberi nilai 29, apa bener BvS sejelek itu? apa Gua kelewatan sesuatu yang orang lain lihat? apa Gua Fanboy DC yang udah nggak ketulungan? Gua terus mikir sampai akhirnya Gua dapet satu kesimpulan:

“BvS” menunjukkan pada Gua bahwa Kita hidup dalam budaya hiperbolis, Kita ingin menobatkan film, album, atau game sebagai sebuah karya masterpiece atau sebagai karya sampah, mungkin untuk membuat hidup Kita terasa lebih berarti karena Kita dapat mengaku bahwa di dalam hidup sehari-hari kita yang membosankan, Kita pernah mengalami sesuatu yang megah dan bermakna, atau sesuatu yang sangat buruk dan menjijikan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s