Sosmed racun

Gua berusaha untuk ngomongin hal ini tanpa terdengar kayak orang muna yang tukang ceramahin orang, tapi karena Gua udah kesel, ya bodo amat lah.

Dalam hal persosmedan Gua selalu telat. Saat semua orang udah BBM-an di BB Gua masih SMS-an di Nokia, saat semua temen Gua pindah ke Facebook Gua masih sibuk di Friendster, saat mereka ngepost sarapan di Instagram Gua masih tidur boro-boro foto sarapan, saat udah ada Snapchat, Vine, Twitter, Pinterest, anu ini itu. Gua masih ngeblog di WordPress.

Mungkin Gua gaptek, mungkin Gua kere baru bisa punya smartphone, yang pasti Gua selalu ketinggalan dalam persosmedan yang paling hot saat ini. Tapi dengan menjadi orang yang selalu ketinggalan Gua punya keuntungan sendiri; Gua bisa merhatiin apa yang terjadi di lingkungan sosial Gua seiring perubahan sosmed yang terjadi di dunia digital.

Semua dimulai dari BBM, saat BB mulai merambah ke Indonesia makin banyak temen Gua yang memilih untuk ngobrol dengan orang lain yang entah ada dimana sementara Gua bengong di depan mereka. Ya Gua sadar kalo Gua orang yang membosankan, tapi perilaku seperti itu GASOPAN buat Gua, Gua udah dateng jauh-jauh untuk bersosialisasi lalu mereka nggak hargain Gua dan memilih untuk ngobrol dengan orang lain yang mungkin aja lagi selonjoran santai di rumah mereka, kacrut. Lalu disaat internet semakin terjangkau dan jangkauannya makin meluas (sama aja nggak sih?) dan aplikasi sosmed semakin banyak, makin sering Gua bengong sendirian sementara semua temen Gua kepalanya terkubur di hp mereka masing-masing. Saat makan bareng, saat ngopi darat, saat nonton bola sekalipun gak jarang Gua ngeliat semua orang ngubur kepala mereka di hp masing-masing.

Yang Gua heran dengan pengguna sosmed, kenapa mereka harus ngepost saat itu juga? Saat ada orang di depan mereka yang bisa diajak ngobrol? Padahal mereka bisa ngepost disaat mereka memang sendirian dan butuh interaksi dari orang lain? kenapaa???

Mungkin karena vanity, untuk nunjukkin ke kalo Kita update dengan berita terbaru saat ini, nunjukkinn kalo Kita punya kehidupan sosial yang seru. Mungkin juga karena ngerasa bosen, canggung, atau gatel aja pengen ngelihat ada notifikasi baru atau nggak.

Memang, sosmed dibentuk dan disesuaikan berdasarkan semua kemauan Kita, semua yang ditampilkan di feed sosmed Kita disesuaikan dengan pilihan Kita, Kita bisa dapet foto dari artis favorit Kita, tweet dari temen Kita, guyonan dari komedian kesukaan Kita, semua berada di ujung jari Kita, ini menciptakan ruangan nyaman buat Kita yang sangat mudah untuk dijangkau. Sosmed juga memanjakan Kita dengan hadiah-hadiah instan kecil untuk menyenangkan hati Kita, sebuah like, sebuah smile, sebuah favorite untuk postingan terbaru Kita. Disaat Kita kehabisan bahan obrolan, disaat situasi jadi awkward, disaat situasi jadi bosenin, disaat Kita butuh distraksi, Kita kabur ke goa pribadi kita yang nyaman untuk menenangkan diri kita dari dunia nyata.

image

Sosmed memperlakukan Kita kayak orang idiot, nyuapin otak kecil Kita dengan segala hal yang menyenangkan Kita dan memberi Kita hadiah setiap kali Kita selfie. Orang tua Gua aja nggak semanis itu ke Gua, mungkin karena itu Gua gak jadi idiot.

“Ah muna Lo Dik, Lo juga make sosmed kan, Lo punya akun Facebook, Instagram, Path, Youtube, Soundcloud, Brazzers. Lo bahkan make sosmed untuk ngeshare blog ini”

Ya, Gua juga pernah melakukan dosa main hp di saat bersosialisasi, Gua beberapa kali sengaja ngumpet dibalik layar hp untuk ngumpetin awkwardnya diri Gua dalam situasi saat Gua ngumpul bareng orang-orang yang baru Gua kenal. Tapi udah, itu aja, Gua nggak merendahkan temen lama Gua yang udah jauh-jauh dateng dengan nyuekkin mereka dengan hp Gua. Jangan salah, Gua juga menahan impuls untuk bolak balik ngelihat screen hp untuk melihat apa ada notifikasi baru, Gua menahan impuls untuk ngupdate status, Gua nahan impuls untuk ngebales chat. Kadang Gua kalah nahan impuls itu, Gua ngintip ke hp Gua, Gua update status, Gua bales message, Gua buka aplikasi sosmed lalu scroll melalui feed Gua, tapi Gua berjuang untuk nggak melakukannya, apalagi kalau ada temen yang lagi ngomong ke Gua.

(Nggak sih, sebenernya Gua nggak punya impuls segitunya, cuma memposisikan diri sebagai pembaca aja biar nggak terlalu sok suci dan menceramahi.)

Sosmed sekarang udah kayak rokok; ada di kantong, adiktif, tempat pelarian disaat bingung, dan memberi dopamin ke otak kita dengan hadiah-hadiah kecil. Sosmed racun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s