Horror


Gua nggak pernah suka genre horror dalam media apapun, mau itu film atau video game. Gua bener-bener nggak suka, bahkan ngerendahin genre Horror. Gua selalu ngerasa genre horror adalah genre sampah, genre yang ada untuk seorang produser yang nggak punya bakat sama sekali dan untuk audiens dengan IQ medioker. Perasaan benci ini bukan karena Gua takut, sebaliknya, Gua nggak pernah ngerasa bener-bener takut sama sekali dengan film atau game horror yang gua mainin. Gua nggak merasa peduli sedikitpun dengan apa yang terjadi di dalam layar; karakter-karakter berguguran dengan cara yang sadis, the end. Gua selalu keluar dari bioskop tanpa rasa takut dan ngerasa rugi udah bayar tiket dan udah membuang 2 jam hidup gua untuk hal gak guna. Itulah pendapat gua mengenai horror..

Sampai Gua nonton The Shining

Gua nggak bisa jelasin kenapa film ini bener-bener bikin gua ngeri. Hantunya nggak terlalu serem, ceritanya agak aneh untuk genre horror sekalipun, dan gua nggak pernah loncat dari kursi gua saat nonton film ini. Tapi entah kenapa The Shining bener-bener bikin Gua takut dan terus mengantui Gua sampai cukup lama setelah Gua selesai nonton.

Sejak The Shining, Gua jadi penasaran dengan genre horror dan mulai melahap segala macam media horror, yang bagus maupun yang jelek. Dari Lovecraft, Alien, Silent Hill 2, I Have No Mouth But I Must Scream, Saya no Uta, Five Nights at Freddy’s, sampai kemarin ini gua nonton lets playnya Until Dawn 7 jam non-stop dari awal sampai tamat.

Yah jujur Gua betah nonton karena playernya cuuutee banget sih.

vlcsnap-2015-08-26-02h22m48s131

Mary, kamu lucu banget senyum-senyum sambil ngeliatin orang kegiles..

Setelah lumayan banyak nelen horor dan mendapatkan beberapa luka psikologis dari horror yang Gua telen itu, Gua sekarang tau kenapa The Shining bener-bener menghantui Gua, dan kenapa Gua sempet benci sekali dengan genre horror, ini dia.

The Bad:
Inilah penyebabnya kenapa Gua sempet benci horror lebih dari setengah umur hidup Gua; Gua salah milih produk, atau mungkin juga Gua salah tahun lahir. Ini karena horror modern cenderung jatuh ke 2 kategori:

1. The Jumpscares
Semua adegan jumpscare memiliki skenario yang sama; suara menjadi hening, ketegangan meninggi saat si karakter mencoba mencari/menghindari sesuatu, lalu BAM!! suara keras mengantam gendang telinga Lo sampe budeg diikuti sesuatu yang nongol memenuhi layar. Seringkali  jumpscare ini cuma jumpscare palsu dimana yang muncul sebenernya cuma temen protagonis yang jail pengen ngagetin dia.vlcsnap-2015-08-27-21h44m07s717

Setelah momen jumpscare, semua perasaan ketegangan itu hilang, Lo merasa lega dan bahkan aman, inilah kenapa orang biasanya ketawa setelah momen jumpscare. Setelah jumpscare selesai, horror harus memulai dari nol lagi untuk membangun ketegangan yang hilang, terlalu banyak jumpscare bikin sebuah horror nggak punya waktu untuk membangun kembali ketegangan yang hilang dan bikin audiens jadi nggak takut lagi.

vlcsnap-2015-08-27-20h12m24s975

Gua baru aja mati dibunuh robot gedeg… hee heehee

Jumpscare adalah cara paling murahan untuk ngagetin orang. Skenarionya udah dipakai berulang kali sampai orang nggak bisa bedain lagi antara kaget dengan takut, ini yang bikin Gua muak sekali dengan jumpscare.

2. Call of Duty Zombie Remake
Lebih umum terjadi di dunia game dibanding film, kategori horor ini mencoba nyomot sebagian audiensnya Call of Duty untuk membeli game mereka. Game seperti Resident Evil 6 dan The Evil Within secara konstan membombardir indera kita dengan monster, darah, jeroan dan peluru tanpa memberi kita waktu untuk membangun ketegangan atau untuk mikir sekalipun. Lo selalu dikejar oleh musuh bergergaji mesin yang akan memberi Lo kematian dengan cara sesadis-sadisnya kalo Lo melakukan kesalahan.

Game seperti ini tentu membuat Lo tegang, tapi bukan karena rasa takut yang seharusnya horror berikan, cuma takut game over aja, dan kalo Lo udah jago mainnya, perasaan tegang itu bakal hilang sama sekali.

Dan setelah semua itu mereka masih mengaku sebagai “survival horror”, maan.. survival horror bukanlah tentang banyaknya aksi yang Lo lakukan, survival horror adalah game strategi dimana Lo harus memperhitungkan jumlah peluru yang sedikit, ruang inventory yang sempit, dan kesempatan save game yang terbatas untuk bisa survive sampai ke akhir game tersebut.

The Good:
Oke cukup ngomel-ngomel, sekarang kita bahas the good stuffs. Dari yang Gua perhatiin, hampir semua horror yang bagus selalu menggunakan sesuatu yang namanya Uncanny Valley. Apa itu uncanny valley?

Uncanny valley adalah sebuah konsep dimana semakin realistisnya sebuah objek maka objek tersebut akan makin disukai sampai dimana objek tersebut cukup realistis tapi kurang realistis dikit sehingga bikin kita malah jadi takut akan objek tersebut.

Bingung ya? Maaf Gua bukan penulis yang bagus, Ini grafik buat jelasin maksud tulisan Gua. Semoga ngerti

uncanny-valle2y

Hannibal Lecter adalah contoh bagus untuk uncanny valley ini, dari luar Dia bukan monster yang mengerikan, Dia cuma orang tua biasa, tapi cara dia ngomong, cara dia bergerak, cara dia memandang. semua itu agak… salah.. Lo tau dia itu manusia tapi ada sesuatu yang salah dengan orang ini dan lo gak bisa jelasin apa yang salah, itulah yang bikin Dia nyeremin.

Begitu juga dengan orang-orang di Silent Hill 2. ada yang salah dari semua orang ini, bahkan si karakter utamanya. Bagi Gua, orang-orang ini justru lebih nyeremin dibanding monster-monster disana.

Uncanny valley juga membuat kita percaya bahwa kejadian yang terjadi di layar bisa terjadi di dunia kita, horror disini bukanlah monster yang luar biasa sehingga mustahil bagi mereka untuk ada di dunia kita. Horror di uncanny valley hanyalah orang-orang biasa seperti yang biasa kita temuin setiap harinya, dan itu yang membuat uncanny valley nempel terus di kepala kita.

Lalu sub-genre horror yang paling bikin Gua takut; Psychological Horror. Psychological horror membawa Kita pergi ke tempat gelap yang tabu untuk dibahas, atau mengingatan kita kalau kita memiliki sisi gelap itu. Psychological horror bikin kita bertanya kembali tentang apa yang bener dan apa yang salah, ini yang bikin psychological horror terus nempel di kepala kita berjam-jam setelah matiin TV.

Saya no Uta dan I Have No Mouth but I Must Scream.. Man.. Jiwa Gua cacat habis mainin game ini. Beberapa kali Gua hampir menyerah karena nggak kuat untuk ngelanjutin game ini. Tapi Gua terus bertahan, game ini dieksekusi dengan bagus dan punya narasi yang bagus sehingga Gua jadi terus tergoda untuk namatin game ini. Cerita di kedua game ini bener-bener fucked up tanpa membuat Gua jadi kebas akan perasaan ngeri yang diberikan.

Silent Hill juga masuk ke dalam kategori ini, walau nggak sesakit jiwa Saya no Uta, tapi Silent Hill mengeksekusi narasinya dengan cara yang lebih subtle. Silent hill bukanlah cerita tentang hantu dan monster, tapi cerita mengenai kegilaan dan kejahatan yang bersembunyi di dalam diri semua orang dan pilihan berat yang harus dihadapi semua orang, hantu dan monster disana hanyalah personifikasi dari kegilaan dan kejahatan yang dibahas disana.

Kedua elemen itu, Uncanny Valley dan Psychological horror, itulah yang membuat The Shining terus nempel di kepala Gua, dan itulah yang bikin Gua suka dengan genre horror. Horror yang terus nempel di kepala Lo untuk beberapa lama setelah Lo matiin TV, horror yang membuat Lo melihat ke belakang walau nggak ada siapapun, yang membuat Lo berpikir kembali tentang apa yang benar dan salah.

Sebaliknya dengan horror modern, horror modern justru membuat lo merasa aman, setelah semua jumpscare itu, setelah semua hantu dan monster yang lo lihat, lo sadar bahwa semua itu cuma bohongan. Ada garis yang nyata yang memisahkan antara fakta dengan fiksi, lo bisa keluar dari bioskop atau meletakkan controller lo dengan perasaan lega bahwa semua monster itu cuma ada di layar.

yah begitulah, Gua bingung mau nutup dengan pernyataan apa, tapi Gua harap Gua bantu orang bedain horror yang proper dan yang nggak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s