Gamepathy

blog ini lanjutan dari blog yang ini Video Game as Media, jadi mending lo baca yang itu dulu. ada bagusnya juga lo baca blog yang ini juga  Gamergate

Lanjut..
Waktu gua smp, bokap salah satu temen gua adalah Sudjiwo Tedjo. Jadi waktu ada event career day di sekolah, yaitu sebuah event dimana orang tua murid dateng dan ngomong depan kelas mengenai pekerjaan mereka, sudah alami seorang Tedjo diundang untuk ngomong di depan. Pada kesempatan itu temen gua nanya ke Tedjo “pak seni itu apa sih?”, setelah ngomong ngalor ngidul dia lalu jawab “ seni adalah cara untuk menyampaikan pesan ke orang-orang, tapi tidak dengan langsung”. Omongan itu langsung nempel di kepala gua. Akhirnya gua tau apa itu seni dan bener sekali jawaban si Tedjo ini, kalo ngasih pesen ke orang secara langsung namanya wejangan/penyuluhan/pidato/artikel, bukan seni namanya.

orang yang tampangnya kayak gini ngamuk-ngamuk di depan kelas, mbentakin dan ngusir 2 anak yang nggak merhatiin dia ngomong.. gua gakpernah sengeri itu semasa smp gua

Nah dari situ gua ke video game. gua tanya, apa ada cara yang lebih baik bagi seniman untuk memberi pesan ke audiens selain naruh audiensnya di dalem dunia yang seniman buat untuk menyampaikan pesen tersebut? Kalo di media lain seperti lukisan, patung, film, musik, audiens cuma bisa nonton, denger, baca, liat. Mereka pasif, mereka nggak bisa berinteraksi dengan seninya, cuma di video game semua itu bisa dilakukan.

Berinteraksi dengan sesuatu memberi lo sebuah tujuan, dan tujuan bikin aksi lo berasa berarti. Kalo interaksinya ditujukan untuk nyampein suatu pesen, game bisa jadi alat yang kuat buat nyampein pesen itu.

Ini lalu nyambung dengan semua headline berita yang ada dimana-mana “videogame menyebabkan kekerasan”. Gua kasih tau ya kalian semua, nggak ada riset yang menunjukkan bahwa videogame menyebabkan kekerasan, Nol. Tapi ya memang orang violent cenderung lebih menyukai videogame yang violent, sama seperti orang violent lebih suka nonton film violent. Tapi yang gua heran kenapa gua belum pernah denger ada riset mengenai video game dan empati?

Dulu sebelum call of duty dan battlefield, fps di platform konsol dikuasain oleh medal of honor. Serial Medal of honor sebagian besar berkisar di era perang dunia 2 dimana player main sebagai seorang prajurit Amerika, yang ngedirect game ini Spielberg pula, jadi yah lo taulah rumusnya, spielberg + world war 2 = Greatness. Di game tersebut ada misi dimana karakter kita sampai di kota Arnhem, dan disana pasukan sekutu kalah. Disitu gua harus jalan nyusurin puing-puing kota Arnhem diiringin alunan biola yang sedih, dipukul mundur oleh tentara axis sambil ngeliat komrad gua dibantai. Disaat itu gua sedih bener, later gua baca buku ternyata memang hal itu terjadi. pasukan Amerika dan Inggris dipukul mundur Jerman di Arnhem karena backup yang telat dan mereka dikepung dari 3 sisi. Warga belanda yang tadinya girang, yang tadinya udah mengibarkan bendera belanda di balkon-balkon mereka karena mereka kira Jerman udah diusir oleh sekutu, jadi lesu dan nurunin bendera mereka karena Jerman kembali, dan tentara sekutu ngelihat hal itu setelah mereka setelah di elu-elukan oleh warga belanda tersebut beberapa hari sebelumnya.

Dari game itu gua berempati terhadap prajurit, dan warga sipil di daerah perang, gua juga belajar sejarah, banyak yang gua dapetin dari Medal Of Honor. Sayang game perang jaman sekarang udah ga nyentuh sisi kemanusiaan di peperangan lagi, sekarang isinya cuma adrenalin, bahkan medal of honor pun berubah jadi another call of duty.

Lalu di metal gear 3, di adegan puncak dimana kita harus ngebunuh the boss, sosok figur ibu dan mentor kita yang dipergunakan dan difitnah CIA untuk membereskan konflik politik antara amerika dan russia untuk mencegah perang dunia 3 (ribet ya? I know, welcome to metal gear! This is a kojima production!).

ini orang..

Di cutscene tersebut boss yang udah terbaring ga berdaya menyerahkan senjatanya ke kita lalu nyuruh kita untuk ngebunuh dia. Lalu kontrol kembali ke tangan kita, tapi disitu kita gabisa ngendaliin apapun kecuali trigger button, senjata sudah mengarah ke kepala boss, suasana hening, eksekusi sudah siap, tinggal menunggu perintah dari kita untuk menarik pelatuk. Itu ngena sekali di gua, gua enggak mau ngebunuh figur ibu dan mentor yang juga seorang pahlawan hebat, gua gak mau, tapi gua harus lakukan atau perang dunia 3 bakal terjadi.

dor.

More recently, game this war of mine. Ini adalah sebuah game dimana kita ngontrol sekelompok kecil orang-orang sipil yang harus bertahan di zona perang, tiap malam salah satu anggota keluarga harus pergi, scavenge nyari makanan, amunisi, obat, dll. Di salah satu scavenging inilah gua dihadapin sebuah pilihan. Gua ngeliat seorang cewek bakal diperkosa oleh seorang yang bersenjata, hal ini bisa gua manfaatin karena saat mereka sibuk gua bisa dengan gampang nyelinep lalu ngambil barang-brang di dalem dan keluar dengan gampang, atau gua bisa nyoba nolong cewek ini (gua gapunya senjata). Kalo gua berhasil kelompok gua bisa nambah satu orang, tapi kalo gagal kelompok gua bakal berkurang satu orang yang berharga dan kelompok gua bakal kelaparan karena scavenging yang gagal. Jadi gua ngpain? Karena gua ninja ya gua pilih untuk nyelinep diem-diem manfaatin keadaan.

ini game paling depressing nomer 2 yang pernah gua mainin

Pengalaman-pengalaman Inilah yang bikin gua selalu bilang videogame is the ultimate artform, kalau game itu dibuat dengan baik lo bisa merasa care dengan karakter-karakter di dalamnya, merasa tindakan lo berarti bagi dunia game tersebut, yang pada akhirnya akan merubah perspektif lo mengenai banyak hal di dunia nyata. Gua gapernah merasa seterpengaruh ini oleh sebuah lukisan, atau patung, bahkan film sekalipun.

Saat ini videogame lagi diserang habis-habisan, industri videogame sudah tumbuh jadi lebih besar dari industri film dan musik, banyak orang yang menolak perubahan yang masih ngeliat game sebagai sekedar “mainan”, banyak juga yang mau manfaatin pertumbuhan videogame ini buat keuntungan pribadi dengan mengkorupkan indiustri gaming. Mulai dari jurnalisme yang diatur agenda politik, game yang disalah-salahin atas segalanya, gamer yang distereotipin jelek, banyak!

Jadi kalo lo adalah mahasiswa psikologi yang lagi nyari topik buat skripsi, please riset topik ini pleaasee. Paling nggak lo bisa ngangkat satu cap jelek yang terus nempel di jidat game selama ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s