Gamergate

Jadi gua pergi ke internet beberapa hari belakangan ini, dan gua nemu istilah yang belakangan ini luar biasa populer, #Gamergate. Setelah riset yang cukup lama di gugel (15 menit cukup lah ya), gua tau dengan jelas dan pasti apa itu #Gamergate. Jadi gamergate itu adalah A CLUSTERFUCK OF CHAOS AND HATRED.

ini gambar pertama yang gua temuin pas gugel gamergate, entah apa artinya ini

Peristiwa gamergate ini diawali ketika salah seorang developer game indie cewek, Zoe Quinn, berselingkuh dengan jurnalis website kotaku, cowoknya tau Quinn selingkuh lalu dia jelek-jelekin Quinn diblognya, ngatain kalau Quinn nidurin si jurnalis ini supaya dapet review bagus untuk game terbarunya. Darisitu diskusi jadi berkembang gak terarah gak keruan, ada yang ngomel karena jurnalisme game sudah rusak dan gak jujur, ada juga yang nyerang si Quinn, lalu ada juga para feminis yang nyerang orang-orang yang nyerang Quinn (kemungkinan besar karena dia cewek), lalu berkembang lagi jadi gamer yang anti cewek, gamer anti ras minoritas, #ImNotYourShield, gamer begini gamer begitu, blablabla…

Saat ini gamergate jadi lebih terfokus ke arah gamer vs feminis. Kritikus game dan feminis sejati, Anita Sarkeesian, bilang bahwa gamer (yang distereotipkan jadi cowok bule single umur 20-30 yang tinggal di basement orangtuanya) gak suka bahwa cewek juga banyak yang suka main game. Anita meminta komunitas game harus mengakui keberadaan gamer cewek dengan bikin game yang female-friendly, yang nggak menseksualisasikan cewek, yang nggak menggambarkan cewek sebagai putri lemah yang harus diselamatkan tukang pipa italia berkumis. Kami adalah cewek, kami kuat, kami mandiri, kami gak perlu cowok untuk nyelametin kami, dan kami gasuka kalo cowok main game yang ceweknya seksi.

peach.. pliss lahh jangan diculik mulu

Point yang adil, tapi coba kita lihat videogame dari sudut pandang cowok, lebih spesifik lagi kita lihat Tomb Raider reboot.

Karakter utama game ini adalah Lara Croft, seorang cewek arkeolog cantik badass yang jago manjat tebing, jago berantem, tangguh luar dan dalem. Cool! Kita semua, cowok maupun cewek, suka reinkarnasi Lara Croft yang baru ini, karakter cewek ini begitu keren sampe kita nggak merhatiin karakter lainnya di game ini: musuh-musuh kelas teri nya.

Di game ini, dan di banyak game lainnya juga, kebanyakan musuh-musuh kelas teri yang bisa dibunuh dengan mudah pasti cowok. cowok hanya dilihat sebagai background, sebuah objek latihan tembak yang bisa dibuang begitu saja tanpa ada perasaan bersalah, tanpa harus mikirin anak istrinya di rumah yang kelaperan karena bapaknya barusan kita lempar ke jurang. Tapi walaupun kita dengan jelas kita melihat objektifikasi cowok yang dijadikan sasaran tembak, apa kita pernah denger cowok protes mengenai hal ini?

mereka cuma sasaran tembak

Feminis selalu ngomel mengenai penggambaran cewek di game yang mengobjektifikasikan cewek menjadi objek seksual, atau cewek yang nggak berdaya, tapi mereka nggak pernah peduli ribuan cowok yang diobjektifikasikan jadi sasaran tembak di videogame apapun. Apa gua harus memulai gerakan ini? Manlism : gerakan yang membela kedudukan cowok di videogame agar nggak diobjektifikasi sebagai sasaran tembak, bersama dengan para feminist kami akan melindungi gender kami dari objektifikasi dan stereotip apapun di videogame. Tapi kalau kita semua melakukan itu, kalau kita mengkritik secara berlebihan semua detil kecil dalam videogame dari segala sudut pandang, apa yang terjadi pada videogame?

Videogame adalah sebuah media, media untuk bercerita, untuk menyampaikan pesan pada banyak orang. Videogame adalah seni, bahkan kata Phil Fish “Videogame is the ultimate artform”, dan gua sangat setuju dengan pandangan itu.

Dalam proses pembuatan videogame kita bisa liat produser, scriptwriter, musisi, seniman 2d, seniman 3d, arsitek, programmer, sound engineer, sejarahwan, aktor dan buanyaakkk banget orang lainnya, baik seniman maupun engineer, bekerja sama untuk membuat SEBUAH DUNIA, sebuah dunia yang bisa dijelajahi dan dialami untuk audiensnya, gamer. gua bilang videogame adalah seni yang lebih dari film, buku atau musik karena Videogame memberi kesempatan bagi player untuk explore dan membuat keputusan di dalam dunia tersebut. Game seperti Bioshock dan Sherlock holmes crimes and punishment membuat kita merasa bertanggung jawab  akan pilihan yang kita ambil di game tersebut, apalagi game no one has to die. Game nggak membiarkan kita cuma duduk diam dan mengamati saja seperti film, musik atau buku, game justru menantang menantang sense moral kita dengan memberi kita pilihan yang sulit dan membuat kita merasa bertanggung jawab akan keputusan kita, inilah yang bikin Videogame seni yang “lebih” dibanding seni lainnya.

Seperti karya seni lainnya, seniman Videogame juga harus memiliki ruang untuk berkreasi sebebas-bebasnya untuk bisa menyampaikan pesan, untuk mengkritik masyarakat/pemerintah, untuk menyadarkan kita. Mereka nggak akan mampu melakukan semua itu kalo mereka harus bikin karya yang harus benar secara politis, atau yang bisa menyenangkan semua orang. lah wong justru biasanya seni itu memang dipake untuk nyentil orang.

literally, nyentil

Kalau semua media seni di dunia ini harus pollitically correct dari dulu, harus ikutin trend, harus main aman, nggak boleh nyinggung ras atau kelompok apapun, siapapun,  kita nggak akan punya yang namanya renaissance, jazz, blues, rock ‘n roll, dan punk. Betapa sepinya dan betapa ruginya dunia kita sekarang jika semua hal itu nggak ada.

Yah memang seperti media lainnya, di videogame juga ada hiburan murahan yang nggak berseni seperti Call of Duty, Dead or Alive, larry suite, tapi ini sama juga seperti Transformer dalam media film, Skrillex pada musik, atau 50 shades of grey dalam literatur. Seni yang direndahin jadi hiburan murahan akan selalu ada, tapi ya jangan dijadiin patokan dari seni itu.

Kalo ini mah gokill

Seperti yang gua bilang pada post sebelumnya, game adalah sebuah media seni yang muda, dan seperti semua media pada awal kemunculannya, game akan menghadapi masa-masa sulit dimana kritik dan hujatan bermunculan untuk menutup suara media ini, dan saat itu adalah sekarang. Terus terang, gua nggak terlalu tau apa yang harus kita lakukan untuk membela videogame di saat ini, tapi yang jelas kita nggak boleh ngumpet di balik ucapan “khan ini cuma mainan”, dan juga kalau mau berdebat harus dengan tutur kata yang baik dan pikiran yang rasional, karena kalo kita ngomong kasar, omongan itulah yang bakal dipake untuk nyerang balik ke kita, gamer.

Advertisements

3 thoughts on “Gamergate

  1. Pingback: Gamepathy | Archontasius

  2. enggak 15 menit juga, cuma hiperbol. tapi intinya gamergate itu gerakan untuk buka kesadaran masyarakat tentang bobroknya jurnalisme video game di barat sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s