Final Fantasy XIII: bukan RPG

Mungkin agak telat untuk ngasih komentar apapun tentang Final Fantasy XIII (telat lima tahun), tapi gua nggak punya PS3 jadi gua baru bisa mainin  Game ini kemarin setelah dirilis di PC. Setelah main sekitar 20 jam, gua bisa nyimpulin bahwa Final Fantasy XIII bukanlah RPG. alasannya? Nggak ada Village.

Belakangan ini banyak game yang mengaburkan garis antara genre action dengan RPG, game seperti skyrim, farcry, borderlands. Tapi tetap ada satu perbedaan mendasar antara game Action dengan Game RPG. Bukan mekaniknya, bukan sistem levelingnya, bukan sistem upgrade senjatanya, melainkan pacingnya.

Game action memiliki tempo yang tinggi, setelah cutscene di awal game kamu langsung akan melakukan pembunuhan non-stop selama 6-10 jam, diselingi beberapa custenes singkat, lalu tamat. Game action cenderung memiliki durasi yang singkat karena game designer tau bahwa high tempo non-stop action yang terlalu lama bisa membuat player jadi jenuh dan letih, karena itu mereka bikin game yang berdurasi singkat tapi mereka memastikan bahwa player mendapatkan semua aksi, darah dan keringat yang bisa player terima dalam waktu 10 jam tersebut.

Pada RPG, tempo berjalan dengan jauh lebih lambat. RPG berdurasi 60 (tanpa sidequest) sampai 200 jam, tempo tinggi nonstop nggak memungkinkan karena hal itu akan membuat player capek bahkan jenuh. RPG memang biasanya diawali oleh adegan battle tempo tinggi untuk memperkenalkan player dengan mekanik battle game tersebut, tapi setelah itu tempo akan menurun, player akan dibawa ke sebuah village dimana player akan diperkenalkan mekanik game lainnya seperti levelling, shop, upgrade weapon, item, dll.

Village ini juga digunakan untuk memberi gambaran besar tentang situasi budaya sampai politik dunia game yang mereka jelajahi ini, entah melalui cutscenes ,dialog dengan NPC atau dari lingkungan villagenya itu sendiri. Background dunia inilah yang akan menjadi fondasi dari story yang akan dijalani karakter utama nanti.

Baru sadar pentingnya village?

Di FF13, kita mengawali game mirip seperti yang kita temukan pada opening FF7, game dimulai di kereta, lalu ada dialog dimana lightning ngomong “i was a soldier”, lalu dilanjutkan dengan beberapa battle sebagai tutorial, setelah itu? massacre, pembunuhan terus menerus selama 20 jam hanya dengan istirahat yang terlalu sebentar-sebentar untuk ukuran game RPG, belum apa-apa gua udah capek main game ini.

Hal ini terjadi karena apa? KARENA NGGAK ADA VILLAGE. Shop dan upgrade dilakukan di save point (mana moogle!?!), health di restore setiap akhir battle sehingga nggak perlu ada inn. Nggak ada dialog dengan NPC, nggak ada waktu santai untuk mikir beli weapon, item, aksesoris, nggak ada minigame yang bikin kita muter-muter kota. Dunia hanyalah lorong-lorong sempit penuh monster dengan sedikit cabang yang nggak memungkinkan untuk eksplorasi.

Selain bikin pace yang lebih ke arah action dibanding RPG, ketiadaan village ini membuat dunia FF13 (yang sampai sekarang gua belum tau namanya, atau lupa) hanya menjadi sebuah gambaran kabur dengan istilah-istilah asing seperti fal’cie, l’cie, sanctum, pulse, cocoon. Gua nggak tau budayanya, gua nggak tau keadaan politik yang bikin konflik, gua nggak tau kenapa pulse milih l’cie secara random, eden itu apa, dll dkk.

Di skyrim, gua hanya perlu main selama 1 jam untuk mendapat gambaran besar mengenai kondisi skyrim dan konflik yang ada disana, di FF13, sudah 20 jam gua main dan gambaran gua mengenai dunianya masih kabur, ini menyebalkan.

Bukan berarti designer harus membeberkan semuanya di awal, jangan banget. Tapi untuk sebuah game berlatarkan sebuah dunia fantasy, player harus diberi informasi yang cukup untuk dapat mengerti dan menikmati cerita dari game tersebut, dan juga agar player bisa peduli terhadap dunia yang akan mereka selamatkan sehingga player akan merasakan impact dari apa yang mereka lakukan di game tersebut, inilah yang disebut agency.

Story FF13 sangat berpusat ke karakter-karakternya, bukan ke dunianya. Sayangnya motif para karakter ini nggak jelas, hanya ngalor-ngidul bertahan hidup untuk nyari tujuan hidup sambil membunuh siapapun yang menghalangi mereka, siapapun! Ada adegan dimana mereka tiba-tiba berubah pikiran hanya beberapa saat setelah membunuh orang yang berusaha mengubah pikiran mereka, tanpa menunjukkan penyesalan kenapa mereka harus bunuh dia, lalu setelah berantem sedikit mereka berubah pikiran lagi. Mereka terombang-ambing di hidup yang nggak punya tujuan dan mereka menggeret player bersama mereka, disini player nggak punya agency, player hanyalah penonton yang nggak bisa berbuat apapun di cerita yang ga jelas, di dunia yang asing dan sempit ini.

Tapi, terlepas dari semua hal buruk yang gua omongin mengenai FF 13, secara keseluruhan gua enjoy main FF 13, sebagian besar karena sistem paradigm shiftnya yang hebat, dan keep in mind bahwa gua baru main game ini selama 20 jam. Mungkin saja memang game ini berdurasi sangat lama sehingga masih banyak yang belum gua alami selama  gameplay gua yang cuma 20 jam ini.

Singkatnya, gua kesel dengan FF13, bukan karena FF13 adalah game yang jelek, tapi karena gua merasa ditipu, kirain game RPG taunya game Action.

Tapi yah pirate mah gaboleh protes…

We pillage, we plunder, we rifle, and loot,
Drink up, me ‘earties, yo ho.

Advertisements

One thought on “Final Fantasy XIII: bukan RPG

  1. Pingback: Dark Souls and Final Fantasy XV | Archontasius

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s