Videogame as Media

Sebelum tahun 60an, benda bernama remaja belum ditemukan. Coba gugel america 50’s. kita gak akan nemuin gambar remaja melakukan hal remaja apapun.Tapi pada tahun 60an, berkat penemuan radio transistor, anak-anak remaja gak perlu harus dengerin musik jazz bapak-bapak mereka lewat gramaphone. Mereka bisa mendengarkan musik yang mereka inginkan. Musik yang  berisi pemberontakan, kebebasan, dan seks. remaja tiba-tiba nongol dan Rock n roll merajalela, hendrix, stones, beatles, pink floyd, lalu disusul sex pistols, ramones, black sabbath, ozzy osbourne, dll dkk.

50's and 60's

50’s and 60’s

Seiring berkembangnya rock n roll, berkembang juga kritik terhadap musik ini. “rock n roll bikin anak-anak jadi pemberontak, liar, gainget tuhan.” “Rock adalah musik setan.” bahkan gak sedikit orangtua religius yang ngelarang anak-anaknya ngedengerin rock and roll, Intinya rock n roll = keburukan.

tenacious d

sekarang, generasi remaja rock n roll udah berusia, banyak dari mereka mungkin adalah orang tua, om tante kita. sekarang rock udah nggak lagi dianggap ancaman bagi masyarakat. sekarang om-om kita malah mengencourage classic rock ke kita daripada kita dengerin mesin fax dengan bass yang disebut dubstep sampah itu.


“Videogames are bad for you? That’s what they said about rock ‘n’ roll.”- shigeru miyamoto

nah sekarang video game.

video game sekarang menjadi kambing hitam dari segala keburukan yang dilakukan semua anak muda di jaman sekarang. “video game menyebabkan perilaku kekerasan, video game menyebabkan autisme, video game menyebabkan kecanduan, video game menyebabkan penembakan sekolah, game ini simulator porno, game itu simulator pembunuhan.. blah blah blah..

 

bahkan pokemon pun nggak aman dari kritikan

game-game diatas di kritik bukan karena konten/cerita di dalamnya. game-game tersebut dikritik karena mereka adalah GAME. banyak lukisan, film, literatur, bahkan musik yang membahas topik-topik seperti perang, genocide, rasisme, sex, drugs, dsb justru malah dipuji-puji atas karya mereka. lalu kenapa video game nggak boleh membahas topik seperti media-media lainnya? karena namanya, video GAME (mainan).

memang pada awal kemunculannya, video game hanyalah sekedar mainan yang ditujukan untuk ngerogoh duit receh anak-anak di dingdong. tapi seiring berkembangnya teknologi video games seperti grafik, musik, dialog, sampai cutscenes. video game telah berevolusi dari sekedar mainan menjadi sebuah media, media yang dapat menyampaikan cerita dan memberi pesan kepada audiencenya.

pong to metal gear solid 5pong to metal gear solid 5

lebih dari itu, video game adalah seni, seni yang lebih dari lukisan, film, atau literatur, video game adalah media yang lebih efektif bagi seniman agar audience bisa mengerti pesan yang ingin disampaikan oleh si seniman dibanding bentuk seni lainnya.


ini maksudnya apa?

melalui video game, seniman bisa membuat audience merasakan experience dari visi seniman, game dengan cerita emosional seperti walking dead dan metal gear solid, atau game dengan dunia yang indah kayak skyrim dan bioshock infinite, sampai game yang total random seperti LSD. hanya dengan video game seniman bener-bener bisa berkarya membuat dunia baru dengan dimensi-dimensi yang nggak bisa dijangkau oleh artform lainnya.

yang harus dilakukan industri game saat ini adalah branding ulang. seperti yang dilakukkan komik saat mereka ganti nama jadi “graphic novel” supaya bisa membahas topik-topik yang lebih dewasa


comic dan graphic novel

 mungkin video game harus diubah namanya, interactive media? simulasi? entahlah..

video game memang media yang masih muda, dan seperti rock and roll atau mungkin semua jenis media pada awal kelahirannya

video game juga akan melewati masa-masa sulit. tetapi jika kita bertahan melalui cobaan ini, jika kita berani menepis kritikan, dan gak selalu berlindung dibalik semboyan “ini kan cuma mainan”. video game akan mencapai status yang sama seperti literatur, lukisan, film, dan musik.

dan pada saat kita tua kita bisa ngomong gini ke cucu kita.

Advertisements

2 thoughts on “Videogame as Media

  1. Pingback: Game nebeng | Archontasius

  2. Pingback: Gamepathy | Archontasius

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s