Setelah beberapa mingggu mengeram di kama kos, saya berpikir bahwa sudah saatnya untuk keluar dan menjelajahi kota Bandung. Dimulai dari Taman Hutan Juanda dulu, karena saya ingin sekali menjadi lebih dekat dengan alam.
Sarapan, mandi, bawa uang 50 ribu, berangkat! sampai di TH Juanda. Waaaaaww… pohon-pohonnya masih lebat, sungguh tidak disangka bahwa masih ada hutan di pinggir kota berkembang seperti Bandung. Udaranya sejuk, agak dingin, dan pemandanganya cantik sekali. Saya langsung menuju Gua jepang dan Gua Belanda, bekas benteng pertahanan mereka di jaman dulu. Dalam perjalanan, seorang kakek tiba-tiba menemani saya berjalan, dan mengajak ngobrol, lalu ia menjadi guide saya tanpa diminta. Saya pikir ia memang petugas yang disediakan Taman ini untuk mengguide wisatawan agar tidak tersesat. Ia menjelaskan tentang tahun Gua ini dibuat dan mengajak obrol saya dengan ramah.
Gua yang pertama didatangi adalah Gua Jepang, Wooww… guanya besar, GELAP, dingin, dan cukup panjang dan memiliki banyak lorong-lorong, lantai dan atapnya tidak dilapisi apa-apa, benar-benar batu, saya jadi ngeri membayangkan para tentara atau pekerja rodi yang bekerja keras untuk menembus batu kokoh ini.
Lalu berikutnya Gua Belanda, kami berjalan sekitar 2-3 Kilometer untuk mencapai Gua Belanda, di perjalanan saya tahu akhirnya kalau ini bukan petugas yang dipekerjakan pemerintah, melainkan guide bayaran, tapi saya pikir uang didompet saya cukup untuk membayarnya. Sampai, Gua belanda ini lebih kecil, lantai dan atapnya sudah dilapisi semen, dan memiliki lebih banyak koridor dibanding gua Jepang.
Setelah puas mengelilingi gua belanda, akhirnya kami kembali lagi ke gua jepang, dan saya menanya berapa ongkos guidenya.
“Jadinya berapa nih Pak?”
“Yaahh biasanya sih 60 ribu.”
…………………………………………………………………………….
WUTT THE HELL!? Guide hanya sekitar 15-20 menit dan jalan hanya sekitar 3 kilometer saja bayaranya 60 Ribu???? Setelah tawar menawar, dan menunjukkan uang di dompet hanya tinggal 40 ribu, akhirnya ia setuju dngan harga 35 ribu.. weks..sisa duit 6000…
Kesel, saya berjalan-jalan sendiri, menikmati keindahan Hutan Juanda ini sendiri. Seharusnya sih ini menjadi jalan-jalan yang menyenangkan, tapi mood saya sudah dirusak oleh si kakek tersebut. Setelah lebih dari Sejam berjalan-jalan, akhirnya capek juga. Saya mencari jalan keluar, tetapi weks… Pos Keluar yang kecil itu sudah ditongkrongi oleh anak-anak geng Motor, harusnya sih gak ada masalah, tapi setelah mendengar teman saya kalau ia pernah dibacok oleh geng motor Bandung, saya takut juga, akhirnya memutuskan untuk mencari jalan lain.
Saat mencari Jalan lain, saya melihat ada sebuah kandang burung. begitu didatangi seekor burung kecil langsung berlari menghampiri saya. Bulunya agak kekuningan seperti kepodang, tetapi disertai dengan bulu-bulu berwarna putih, menjadikannya seperti kepodang-penguin. Ia bersiul-siul, dengan suara siulan yang berbeda-beda, saya membalasnya dengan siulan saya, ia pun bersiul semakin keras.. wah lucu deh, begitu saya pergi mengitari kandang tersebut, burung itu berlari mengikuti saya, akhirnya saya menghabiskan waktu cukup lama bersama burung tersebut.
setelha cukup lama ‘ngobrol’ dengan burung tersebut, saya melihat seorang Turis Arab menuju pintu keluar yang ditongkrongi anak Geng Motor tadi, wah saya akan aman nih.. Saya pun mengikutinya dari belakang, setelah beberapa saat, lalu ia bertanya kepada saya.
“Neksh?” (mungkin maksudnya Exit)
“Yes?” jawab saya bingung.
“Neksh?”
“Yes?”
“aa.. Parking lot?”
“ummm don’t know, my first time here”
“SHIT” lalu ia pergi..
Sialan, makin dongkol saja saya ini. Tapi yang membuat saya kecewa adalah ia berbalik arah, tidak jadi pergi ke arah Pos Keluar yang ditongkrongi anak-anak Geng Motor tersebut. Memang benar itu adalah tempat keluar, tapi saya rasa itu bukan tempat parkir yang turis Arab itu maksud.
Akhirnya saya berbalik arah juga, mencoba mencari jalan lain.. tentunya saya tidak lagi mengikuti si Turis Arab tersebut. Tidak lama kemudian akhirnya ketemu juga, setelah 3 jam berjalan-jalan di alam, akhirnya keluar juga dari hutan Juanda (mungkin kalau moodnya tidak dirusak si kakek guide dan si turis, bisa-bisa seharian saya disana)
Karena sisa uang di dompet hanya 6000 rupiah saja, saya tidak bisa naik ojek untuk kembali ke jalan besar, akhirnya saya jalan kaki, 5 kilometer lah.. di jalan saya bertemu lagi dengan Turis Arab tadi, Ia mengendarai Mobil, dan menyapa saya dengan senyuman ramah (mungkin menyesal dengan perbuatannya tadi?).
“Haloooo”
Saya balas senyumanya, Namun ia tidakmemberikan tumpangan.. ugh..
“Sialan, kasih tebengan kek!?”
Yah, setelah 10 menit berjalan, akhirnya sampai juga di jalan raya… pulang, mandi, ketik Blog……… Tidur…



Recent Comments